Senja di Ransel Ara

Created by: Nurmaya

Sejak tiba dua bulan lalu di Taman Kanak-kanak. Ara, anak perempuan lima tahun yang wajahnya selalu menyunggingkan senyum dan rambut ikalnya melambai-lambai menari mengikuti irama langkahnya, hanya bicara sepatah dua kata, sangat jarang sekali terlihat dia bermain dengan temannya, atau serius menikmati permainan yang ada di sekolah. Jika ada teman atau guru yang mengajaknya untuk turut serta bermain, Ara hanya menggelengkan kepala sambil memeluk ransel yang seakan tak pernah dilepasnya. Ransel bercorak bunga yang sudah kusam dan sama sekali tidak menarik untuk ukuran anak seusianya terus dipeluk dan dipeganginya atau disandangkan ke punggungnya.

Ara lebih sering memilih tempat duduk di dekat jendela, seringkali dia melihat keluar seperti menunggu sesuatu.

“Ara menunggu apa??”

Tanya Miss Uti, seorang guru yang sudah belasan tahun mengabdikan waktunya di Taman Kanak-kanak itu. Miss Uti sudah sangat paham karakter anak-anak yang berganti tiap tahunnya. Dia seolah sudah menjadi buku panduan berjalan yang sangat mengerti karakter anak dan cara untuk menghadapinya. Pertanyaan yang sama sudah berulang kali ditanyakan pada Ara, Ara hanya menjawab,

“Aku menunggu senja Miss…”.

Jawaban Ara yang kerap membingungkan itu, hanya disambut senyum manis Miss Uti dan lalu mengajak Ara bergabung dengan teman-teman yang lain. Ara memang mau bergabung tapi tetap dia tak mau melepaskan ransel yang disandangnya. Pernah seorang guru agak memaksa Ara untuk menanggalkan ransel dan menaruhnya, Ara menangis sejadinya dan menahan ransel dalam pelukannya.

Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak pun menggelar rapat terbatas, karena menganggap Ara memiliki masalah dan harus segera dicari jalan keluar supaya Ara mau sejenak melepas ranselnya. Miss Uti agak keberatan dengan usulan Kepala Sekolah,

“Ara sangat sayang pada ranselnya, maka kita jangan mengusiknya” dalih Miss Uti.

“Tapi ini sudah keterlaluan, dua bulan Ara disini, belum pernah dia melepas ranselnya, nanti makin banyak anak-anak yang mengikuti dia…” Sang Kepala Sekolah juga memiliki alasan yang kuat.

Para guru yang lain hanya terdiam, mereka juga bingung menghadapi masalah anak yang baru kali ini baru mereka temui.

     “Saya yang akan mencoba bicara dengan Ara Bu, saya berjanji Ara akan segera kembali seperti anak yang lain..”, ucapan Miss Uti, disambut anggukan kepala Sang Kepala Sekolah yang sepertinya sangsi dengan hal itu.

Miss Uti kembali ke kelas, dan melihat Ara sedang menarik ranselnya yang direbut seorang anak lelaki.

     “lepasiiiin…” teriak Ara

Tapi anak lelaki itu berkeras ingin melihat Ransel Ara

     “Aku Cuma mau liat Raa…aku pinjaaam..” tangkis si anak lelaki.

Ara berusaha menarik ranselnya, pegangan si anak lelaki terlepas,  ransel segera terlempar dan tarjatuh, terbukalah ransel tersebut, dari dalam ransel berpendar cahaya jingga keemasan sangat menyilaukan. Anak-anak menutup mata mereka menghalangi sinar itu menyakiti mata mereka. Miss Uti panic dan segera meraih tas tersebut lalu menutupnya. Cahaya jingga keemasan perlahan pudar, anak-anak terbengong aneh melihat ke Ara. Miss uti memberikan kembali ransel itu pada Ara.

     “Ini tas kamu, jaga baik-baik ya…”

Ara mengangguk cemas.

     “Semua kembali kerjakan tugas menggambarnya..” Miss Uti membuyarkan keterpukauan anak-anak. Semua segera kembali menggambar tapi tetap ada beberapa anak mencuri pandang ke Ara yang kemudian diajak keluar oleh Miss Uti.

Miss Uti membawa Ara ke Arena permainan, Ara serius memeluk ranselnya. Wajahnya tampak bingung dan takut.

     “Miss jangan ambil tas aku ya…” Lirih Ara.

Miss Uti tersenyum 

     “Nggak ara…Miss seneng liat Ara menjaga barang milik Ara..”

Ara mengangguk pelan

     “Miss boleh tau apa itu??”

Ara agak mikir, kemudian Ara berdiri dan menarik tangan Miss Uti, Ara mengajaknya ke arah sebuah ruangan yang gelap. Miss uti bingung tapi terus mengikuti Ara.

Perlahan ara membuka pintu ruangan tersebut, Miss Uti agak bingung.

     “kenapa kita kesini ra?” Miss Uti masih kebingungan.

     “Miss mau liat isi tas Ara kan?? sebentar ya Miss..”

Ara menutup gorden ruangan yang masih sedikit terbuka. Suasana gelap memenuhi ruangan.

     “Miss janji nggak akan cerita siapa-siapa kan??” ara berusaha memastikan

     “Iyaa..miss janji sama Ara..”

Ara perlahan membuka ranselnya, cahaya jingga keemasan kembali berpendar memenuhi ruangan, sayup-sayup angin menerpa wajah Miss Uti dan Ara, suara deburan ombak terdengar lamat-lamat semakin kencang. Mendadak. Ruangan menghilang, yang tampak hanya suasana pantai dengan kilauan pasir yang diterpa sinar matahari tenggelam.

Miss Uti tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

     “Kita dimana Ra...?”

     “ayooo misss…kesinii miiisss….”

Ara tak menjawab, dia terus berlari menyusuri pantai berpasir halus, menginjak pasirnya serasa menginjak tumpukan kapas, begitu halus dan lembut serta hangat. Ara terus belari, sangat berbeda dengan Ara yang biasa, yang pendiam dan seakan penuh kesedihan, kini Ara menjelma seorang anak yang begitu riang seakan pantai tersebut adalah miliknya.

Miss Uti sampai harus melepas sepatunya untuk mengejar Ara di atas pasir. Ara berlari bermain dikejar ombak. Kemudian menarik tangan Miss Uti menuju ke ombak-ombak kecil yang bergulung. Miss Uti larut bersama Ara, sesekali terdengar tawa dan teriakan kecil keduanya. Hingga keduanya lelah dan duduk di sebuah batang pohon kelapa yang ambruk rapuh karena usia.

     “Kita dimana Ra??” Miss Uti masih saja penasaran.

     “Kita menunggu Ayah dan Ibu ya Miss…”

Miss Uti diam, dia seakan tak percaya dengan ucapan Ara, sebab Ayah dan Ibu Ara dikabarkan beberapa bulan lalu meninggal dalam sebuah kecelakaan motorboat, itu sebabnya Ara selalu diantar oleh neneknya. Lamunan Miss Uti pudar saat mendengar suara memanggil Ara.

 

     “araaaa….”

Miss Uti menoleh cepat, Ara berlari ke arah suara dan tampaklah seorang lelaki dan perempuan yang langsung dipeluk erat oleh Ara.

     “ayaaaah…ibuuuu….”

Ara sangat lekat dengan mereka. Lelaki dan perempuan itu hanya tersenyum pada Miss Uti, perlahan keduanya segera menggandeng Ara menjauh dari Miss Uti, mereka bertiga melambaikan tangan pada Miss Uti menuju ke matahari mulai membenamkan dirinya.

     “Byeeeee missss utiiii….”

Miss uti sangat kuatir, dia berusaha mengejar Ara.

     “Araaaa…jangan pergiiii…araaaa….”

Tapi langkah Miss Uti tertahan air laut yang perlahan meninggi selututnya, sedang Ara dan ayah serta ibunya seperti melangkah santai di permukaan air menngikuti jingga keemasan yang perlahan pudar.

     “Araaaa..jangan pergiii…Araaaaa…araaaa…..”

Miss Uti tak bisa berbuat apa-apa sampai ketiganya menghilang bersama matahari dan sinar temaram yang semakin tebal menyelimuti.

     “Miss…miss uti??”

Miss Uti perlahan membuka matanya, dia melihat sosok Kepala Sekolah bersama guru-guru lainnya yang melihat aneh dan penuh rasa ingin tahu padanya. Miss Uti melihat ransel yang berada dalam dekapannya

     “Ara kemana?? Kenapa ranselnya ada sama Miss??”

Miss Uti masih belum bicara, dia memegang ransel itu dan memeluknya.

     “Ara…Ara pulang bersama Senja…”

 

JoomShaper