BELAJAR SERAYA BERMAIN DI LINGKUNGAN YANG ALAMI

Proses belajar yang memerdekakan anak, membentuk kepribadian berakhlak, serta menggali minat dan potensi anak, dalam suasana alami menyenangkan, menjadi keseharian belajar di sekolah SD Semut-Semut the Natural School di Depok.

Sekolah Semut-Semut menyediakan pendidikan formal yang memerdekakan anak sesuai potensi dan kecerdasan, serta membangun karakter anak sesuai nilai-nilai Islami di tengah perubahan dan tantangan abad 21.

menjual hasil karya di acara Market Day, kegiatan yang menyenangkan

Masa belajar di sekolah dasar adalah waktu-waktu  yang sangat menyenangkan. Belajar dan bermain, bersenang-senang dengan teman, serta mengembangkan rasa ingin tahu tentang apa saja. (Ah, andai kita sebagai orangtua bisa kembali ke masa-masa kecil di sekolah yang menyenangkan).

Benar, ini masa perkembangan kepribadian dan karakter anak yang paling penting. Jadi lebih utama ketimbang formalitas belajar yang menekankan pencapaian nilai-nilai akademik semata.

Sekolah Semut-Semut adalah sekolah inklusif yang berlandaskan Islam. Informasi ini memang tidak terlalu mengemuka, lantaran sejak awalnya Semut-Semut telah menjadi sekolah dengan kesempatan terbuka bagi anak berkebutuhan khusus, sejauh mampu ditangani, tersedia kapasitas tempat (terbatas), dan orangtua bisa bekerjasama dalam proses pendidikan anak.

Sejumlah siswanya merupakan siswa/anak berkebutuhan khusus, yang belajar bersama dengan siswa reguler di kelas 1 sampai kelas 6. (Juga di jenjang SMP, sekolah SMP Indonesia Natural School juga menerima siswa anak berkebutuhan khusus (kapasitas terbatas).

Kondisi ini merupakan anugrah pembelajaran yang berharga, untuk membiasakan sikap toleran, menerima perbedaan, menerima kelebihan dan kekurangan, saling tolong menolong, tanpa bullying.  Menerima dan menghargai perbedaan berarti kita bersikap humanis, atau menghargai kemanusiaan.

Pertemanan di antara siswa menjadi persahabatan yang hangat, tanpa bullying atau merendahkan. Pertemanan yang baik menumbuhkan rasa aman bagi siswa saat berada di sekolah, sehingga melahirkan kegembiraan dan akhirnya mendukung kesenangan belajar. Hindari tekanan, beban, atau trauma belajar. Belajar adalah sesuatu yang kita sukai, kita butuhkan, dan akan membawa kita menjadi apa yang kita idamkan kelak.

Hubungan yang erat dengan para guru. Guru berusaha selalu ada mendampingi siswa. Bersikap membantu, terbuka jadi teman diskusi dan curhat siswa. Guru yang suka memuji dan membesarkan hati anak. Guru yang menerapkan pembelajaran yang aktif banyak berkarya (by hand), dengan cerdas dan kreatif (by head), yang energik, trampil dan gesit (by health), mengasihi dengan hati (by heart).

Menanamkan nilai yang baik pada anak, tentu memerlukan pembiasaan. Setiap kali anak berlaku salah, maka anak segera diberikan penyadaran dan penguatan nilai-nilai. Jika salah terhadap teman, segera didamaikan dan meminta maaf.  Dalam komunitas Semut-Semut, kesemuanya berupaya untuk berperilaku baik, sopan, menghargai orang lain, sesuai ahlak agama Islam.  Pembiasaan dan penguatan nilai-nilai akan melahirkan sikap karakter yang baik pada anak. Iklim belajar dan suasana yang kondusif bagi proses belajar mengajar.

Sejatinya, program sekolah memang harus berorientasi pada perkembangan kepribadian anak. Mengembangkan minat dan kesukaan anak, ini sebuah pemenuhan harga diri yang akhirnya membentuk rasa percaya diri dan kemandirian.

Kesenangan belajar, kegembiraan bersekolah, perasaan nyaman bersekolah, perasaan dihargai, pada akhirnya mendorong  sikap positif, percaya diri, tanggungjawab, dan kemandirian.

Anak yang percaya diri (PD) dan mandiri akan menjadi pembelajar  dan punya rasa tanggungjawab. Mereka akan belajar tanpa disuruh, karena menyadari belajar itu merupakan kebutuhan, dan dapat dijalani secara menyenangkan. Akhirnya, sebagai pembelajar, tentu akan mendapatkan pencapaian nilai akademik yang optimal sesuai kemampuan anak.

Lapangan tengah berlantai tanah, tempat yang menyenangkan untuk bermain

Pada tahun ajaran 2018/19 yang baru berlalu, SD Semut-Semut telah meluluskan 12 angkatan  siswa. Kini dengan 18 rombongan belajar, atau 3 rombel per kelas. Menempati bangunan berlantai 3, sebagai bangunan utama di komplek pendidikan Semut-Semut. (Ada unit TK dan PG juga). Setiap rombongan belajar dengan 25-28 anak, didampingi oleh 2 orang guru kelas.

Perjalanan sekolah SD Semut-Semut telah melalui waktu yang cukup lama untuk proses belajar berkembang sebagai sebuah komunitas sekolah/pendidikan. Senantiasa ingin berbenah diri untuk selalu update berkontribusi bagi masyarakat dan dunia pendidikan nasional umumnya.

Gedung SD bertingkat tiga, yang kita lihat saat ini, merupakan gedung sekolah yang tumbuh berproses dalam waktu cukup panjang.

Dahulu lingkungan alam sekolah Semut-Semut berupa kebun  yang berisikan pohon rambutan, belimbing dewa, mangga, dan kelapa. Suasana kebun hingga kini tetap dipertahankan, ditandai dengan pepohonan yang rimbun dan tinggi-tinggi.

Awalnya, unit SD kelas 1 pada tahun 2003, menempati ruang kelas pada bangunan sederhana di sudut sekolah, yang kini menjadi bagian kelas Playgrup.

Kemudian pada tahun 2004, dengan ijin Allah SWT dan kerja keras pengurus pendiri Yayasan Semut Beriring,  siswa SD berhasil menempati bangunan baru (ketika itu 1/2 bagian lantai 1). Dan kemudian dua tahun berikutnya, terbangunlah keseluruhan lantai 1 dan lantai 2.

Tahap terakhir, adalah pembangunan lantai 3 yang sekarang ditempati oleh kelas 5 dan 6. Di sini pun sering digunakan untuk kegiatan pelatihan, seminar, dan pareting. Pembangunan ini dilakukan bertahap, dan memakan waktu sekitar 6 tahun.

Proses pembangunan yang cukup panjang ini, menjadi penanda tentang sebuah sekolah yang tumbuh bersama para orangtua yang menginginkan sebuah pelayanan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan anak.

Jati diri bangsa Indonesia, yang religius, ramah, kaya tradisi seni budaya, dan sikap suka menolong bergotong royong, sebagaimana menjadi landasan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, menjadi acuan bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah Semut-Semut the Natural School. “Pendidikan adalah perjuangan kebudayaan,” begitu titip pesan Ki Hajar.

Karena itu, di pagi hari selalu diperdengarkan musik berupa lagu nasional, lagu tradisi, dan lagu anak-anak, sebagai upaya mendekatkan anak pada khasanah keIndonesiaan.  Juga kegiatan permainan tradisional, kelas musik dengan alat angklung dan arumba, serta berbagai olah seni tradisi, menjadi penguat keIndonesiaan  dan kebangsaan dalam diri anak.

Pada waktu khusus, seperti hari Jum’at, diperdengarkan lagu dan ayat suci, serta ibadah dhuha berjamaah, diisi dengan ceramah dan games, sehingga suasana keIslaman sangat terasa.

Shalat Dhuha berjamaah, di lapangan tengah sekolah, Ramadhan 1440 H, 2019

Sebagai sekolah swasta,  meski menginduk ke Pendidikan/Kurikulum Nasional, sekolah Semut-Semut memiliki ‘ruang’ untuk melakukan pengayaan pendidikan sesuai kekhasan pendidikan natural yang dikembangkannya.

Komunikasi harus menjadi ketrampilan yang dibekalkan pada siswa. Di sekolah Semut-Semut, siswa didorong untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan menampilkan dirinya. Kemampuan berkomunikasi paralel dengan peningkatan kecerdasan anak. Makin trampil berkomunikasi, maka proses berfikir anak makin baik. Kesempatan siswa bicara, yang selama ini terbatasi dengan konten kurikulum, dapat terwadahi melalui metode belajar aktif yang banyak menampilkan eksplorasi, observasi, dan presentasi. Kebiasaan belajar kelompok (kooperatif dan kolaboratif) mendorong berbicara lebih banyak.

Layout kelas  yang dinamis, dengan model pembelajaran aktif dan teacher center,  memungkinkan beragam cara komunikasi terjadi. Misal,  berkelompok 4 orang mengerjakan tugas bersama pada 1 meja. Anggota kelompok dibuat berganti-ganti sesuai tema pembelajaran, agar anak terbiasa bekerjasama dengan siapa pun. Format lain, anak duduk di lantai mendengarkan guru yang duduk berbicara.

Guru yang telah memetakan karakter dan gaya belajar anak, yang berbeda dan unik, memadukan anak-anak yang berkarakter saling melengkapi, sehingga kelompok menjadi produktif dapat mengisi menyelesaikan tugas.

Contoh lain, presentasi. Anak diminta tampil di muka kelas, baik sendiri atau berkelompok, menjelaskan tentang suatu topik yang dipilihnya. Kesempatan  tampil ini diberikan bergilir. Diharapkan, terbentuk sikap percaya diri untuk berani mengungkapkan pikiran dan pendapat.

Keseringan meminta anak bertanya, tampil ke depan, mempresentasikan karya, atau tampil dalam pentas kelas, pameran hingga pertandingan kelas, membuat anak terbiasa berkomunikasi dan tampil. Tak perlu malu, karena tidak akan dipersalahan atau diejek.

Guru pun lebih banyak mendorong anak berefleksi, menulis cerita, uraian, atas tantangan yang diberikan. Baik berupa tulisan atau pun gambar. Buku kerja siswa, yang disediakan sekolah, telah didesain untuk menampung pola kerja anak, baik yang senang mencatat tulisan, mencatat melalui gambar, atau pun membuat mind mapping.

Buku kerja anak, di halaman kiri diberikan halaman kosong untuk menggambarkan sesuatu, dan di halaman sebelah kanan dengan halaman bergaris untuk menulis. Keduanya dapat dimanfaatkan sekaligus, menulis dan membuat gambar di sebelahnya. Generasi anak-anak sekarang cenderung berfikir lebih mudah melalui visual/gambar.

PR atau pekerjaan rumah dibuat lebih menantang dengan mengubahnya menjadi Tantangan Rumah. Beberapa tantangan rumah dikerjakan bersama orangtua. Ini agar anak dapat belajar dan berkomunikasi dengan ayahbunda. Ini sebagai upaya sekolah untuk mendekatkan dukungan orangtua terhadap proses belajar anak, serta mendekatkan anak pada proses berfikir logis.

Juga orangtua atau profesional di bidangnya dihadirkan sebagai guest teacher, sehingga proses pembelajaran makin komunikatif, realistik, dan menyenangkan. Belajar dapat dilakukan dari berbagai sumber, dan lebih menyenangkan.

Ketrampilan berkomunikasi (lisan) dan  menulis membaca (literasi) merupakan skill yang penting dibekalkan. Harapannya, anak memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, serta dapat mencari ilmu pengetahuan dengan kesukaannya membaca (sebagai pembelajar).

Perpustakaan didekatkan dengan keseharian anak, kebiasan membaca terus ditumbuhkan. Literasi (membaca, menulis, berkomunikasi) kini mengalami mengalami tekanan dengan adanya gadget. Sekolah pun mencoba untuk terus membiasakan siswa untuk menulis narasi dalam tugas-tugas kelas.

Keterlibatan siswa dalam program  One Day toWrite, yang diasuh oleh Kak Lala Elmira , merupakan sarana pembelajaran bagi siswa yang berminat lebih jauh dalam khasanah sastra dan literasi.  Beberapa tulisan siswa terseleksi, terimakasih, telah diterbitkan oleh One Day to Write.

Selain pelajaran menari dan Kepanduan, juga ada kegiatan unik seperti TALENT DAY biasanya di hari Jum’at, dalam 1 mata jam pelajaran (45 menit).

Talent Day berisikan berbagai kegiatan. Seperti, Bengkel Habibie, Fun Cooking, Sahabat Bumi, Art & Craft, Komputer, Musik, Paduan Suara, Tahfiz Quran, dsb. Saat kegiatan ini, anak tidak terbedakan dengan kelas. Jadi pembelajaran kolaboratif untuk mengembangkan hobi minat dan perhatian tentang sesuatu. Anak berkebutuhan khusus juga mengikutinya, dengan pendampingan.

Bengkel Habibie kegiatan siswa merakit benda-benda imajinernya (hias, dll) yang dibuat dari bahan bekas berupa kertas, botol kemasan, kotak kertas, kayu bekas dan logam, dengan dibantu oleh para guru untuk menggunakan lem tembak, gunting, kawat, dan alat pertukangan sederhana. Tujuannya, agar anak kreatif mencipta, dan melatih motorik halusnya menggunakan berberapa alat kerja.  Penamaan Habibie sebagai penghormatan terhadap presiden RI ke 3 bapak B.J Habibie, pendiri pabrik pesawat Nurtanio  dan ahli pembuat pesawat terbang yang diakui dunia.

Kegiatan Talent Day dibimbing oleh para guru kelas atau mata pelajaran, agar anak-anak sejak dini memiliki minat dan tergali potensinya. Beberapa anak kerap berpindah tim untuk memuaskan rasa ingin tahu atau kesukaannya.

Kegiatan Sahabat Alam, misalnya, dikelola oleh kakak mahasiswa dan alumni fakultas biologi. Juga ada kakak  “Biodiversity Warrior” dari Yayasan KEHATI yang mengajak siswa mencintai lingkungan dan keanekaragaman hayati. Beberapa anak dengan peminatan alam lingkungan mendapatkan pin Duta Lingkungan.

Di sore hari, seusai pulang sekolah, para siswa dapat lebih meningkatkan skill atau minatnya, dalam berbagai cabang kegiatan.

Antara lain olahraga futsal, bola basket, taekwondo, panahan, kegiatan musik seperti vokal-gitar, menari, berlatih bahasa Inggris.

  • Pelayanan penerimaan siswa baru first come first serve, dengan tes kesiapan belajar dan kecocokan pola asuh keluarga.
  • Jam belajar 07.30 s/d 14.00, dengan Sabtu libur. Waktu belajar siswa dipertahankan sebaik mungkin, misal ketika kakak kelas 6 melakukan ujian US, maka siswa kelas 1-5  masuk siang pk. 11.00 hingga selesai.
  • Tidak ada ruang guru tempat guru berkumpul. Guru diharapkan selalu ada di kelas selama proses pembelajaran.
  • Tidak ada jam istirahat bermain secara khusus terjadwal. Waktu free play atau istirahat, disesuaikan dengan kebutuhan anak dan proses pembelajaran.
  • Tidak ada sistem perangkingan nilai pada raport semester berdasarkan nilai, karena tiap anak memiliki kelebihannya masing masing.
  • Pembelajaran kolaboratif dan multigrade, dengan kegiatan bersama kelas 1-6 pada moment tertentu seperti camping, pagelaran seni Performa Anak Negeri, kegiatan senior service dari kakak kelas 6 ke adik-adik inklusif, pameran karya kelas, dan sebagainya.
  • Melakukan peringatan hari penting nasional dan internasional.  Seperti hari Batik, hari Susu, hari TNI. Tujuannya, mendekatkan siswa pada isu/wacana nasional dan internasional, sehingga paham permasalahan bangsa, belajar secara realistik menyenangkan, dan kelak bisa beradaptasi dengan baik sebagai warga bangsa.
  1. Sekolah Berbudaya Lingkungan, tingkat Kota Depok, 2019
  2. Sekolah ADIWIYATA, tingkat propinsi Jawa Barat, 2019
  3. Sekolah Pembina untuk Sekolah Inklusi di wilayah Kec. Cimanggis, kota Kota Depok.
  4. POKJA Inklusi, Kota Depok.
  5. Sekolah Ramah Anak, Kota Depok, 2018

(IM)